Dalam dunia laundry, pemutih adalah senjata utama untuk menjaga pakaian tetap bersih, cerah, dan higienis. Dua jenis pemutih yang paling populer adalah oxy bleach (berbasis hidrogen peroksida) dan chlorine bleach (berbasis natrium hipoklorit). Keduanya sama-sama bekerja dengan prinsip oksidasi, tetapi memiliki karakteristik, keunggulan, kelemahan, serta risiko yang berbeda. Mari kita bahas secara rinci.
Oxy Bleach
Supaya Lebih Optimal, diapakan?
1. Gunakan bersama Alkali
Oxy bleach adalah pemutih berbasis hidrogen peroksida (H,0,) atau turunannya seperti sodium percarbonate. Mekanisme utamanya adalah melepaskan oksigen aktif yang mengoksidasi noda organik pada kain. Secara alami, larutan H,0, memiliki pH sedikit asam (sekitar 3—-6), sehingga kurang optimal untuk bleaching. Dalam aplikasi laundry, H,0, biasanya digunakan bersama alkali builder (misalnya sodium carbonate/Na,CO, atau sodium silicate) yang menaikkan pH larutan ke kisaran 9—10. Pada pH ini, H,0, lebih aktif dan mampu menghasilkan radikal hidroksil (+OH) yang kuat untuk oksidasi noda.
2. Tambahkan Aktivator TAED
Selain alkali, oxy bleach sering dikombinasikan dengan TAED (Tetraacetylethylenediamine). TAED berfungsi sebagai activator yang bereaksi dengan H,0, membentuk peracetic acid (PAA) secara in situ. PAA adalah oksidator yang lebih kuat dan efektif di suhu rendah (20-40 °C). Dengan kombinasi ini, oxy bleach bisa bekerja optimal tanpa perlu pemanasan tinggi, sehingga hemat energi dan tetap aman untuk kain berwarna.
Keunggulan oxy bleach:
- Aman untuk kain berwarna dan serat halus.
- Ramah lingkungan, karena hasil sampingannya adalah air dan oksigen.
- Dengan TAED, efektif di suhu rendah sehingga hemat energi.
Kelemahan oxy bleach:
- Tanpa alkali atau TAED, kurang efektif di suhu rendah.
- Membutuhkan waktu kontak lebih lama (30—60 menit).
- Biaya formula lebih tinggi bila menggunakan TAED
Klorin Bleach
Chlorine bleach berbasis natrium hipoklorit (NaOCl), yang dalam air menghasilkan asam hipoklorit (HOCI). HOCI adalah oksidator sangat kuat, aktif bahkan di suhu rendah (20—-30 °C). Inilah sebabnya chlorine bleach sering digunakan untuk pemutihan instan dan disinfeksi pada linen putih, terutama di rumah sakit dan hotel.
Larutan chlorine bleach komersial biasanya memiliki pH tinggi (11-13). Kondisi alkali ini penting untuk menjaga stabilitas larutan. Bila pH turun ke kondisi asam, NaOCI akan terurai dan melepaskan gas klorin (Cl,) yang beracun. Oleh karena itu, menambahkan alkali buffer justru aman dan diperlukan untuk menjaga pH tetap tinggi. Bahaya muncul bila chlorine dicampur dengan asam (misalnya HCI, cuka, pembersih toilet) atau amonia, karena dapat menghasilkan gas beracun (klorin atau chloramine).
Keunggulan chlorine bleach
- Sangat cepat bekerja, bahkan di suhu rendah.
- Efektif sebagai disinfektan, standar higienis tinggi.
- Biaya relatif murah.
Kelemahan chlorine bleach:
- Agresif terhadap serat, bisa melemahkan kain bila sering digunakan.
- Melunturkan warna, hanya cocok untuk kain putih.
- Berbahaya bila dicampur dengan asam atau amonia.
Perbedaan Oxy dan Klorin
| Aspek | OxyBleach | Chlorine Bleach |
|---|---|---|
| pH alami | 3—6 (asam, perlu alkali) | 11-13 (alkali, stabil) |
| pH optimal aplikasi | 9-10 (dengan alkali/TAED) | 10-12 (buffer alkali) |
| Suhu efektif | 40-60 °C (butuh suhu menengah) | 20—40 °C (aktif di suhu rendah) |
| Katalis/aktivator | Perlu TAED untuk suhu rendah | Tidak perlu |
| Waktu kontak | 30—60 menit | 10-20 menit |
| Efek pada warna | Aman untuk Berwarna | Melunturkan warna |
| Efek pada serat | Lembut | Bisa merusak |
| Disinfeksi | Sedang | Sangat kuat |
| Risiko campuran | Aman dengan alkali/deterjen | Berbahaya dengan asam/amonia |
| Biaya formula | Lebih mahal (butuhTAED) | Lebih murah |


